MAKALAH
KONFLIK DALAM PEMERINTAHAN
DISUSUN OLEH:
REGITA
AULIA PUTRI
207310138
IP
SEMESTER 3
FAKULTAS
FISIPOL
JURUSAN
ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2021-2022
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kami
panjatkan kepada ALLAH SWT atas rahmat dan hidayahnya yang telah diberikan
kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak /
Ibu yang telah membimbing dalam membuat makalah ini.
Akan tetapi, kami menyadari bahwa di dalam makalah ini, masih terdapat
banyak kekurangan yang tentunya mengakibatkan makalah ini masih dikatakan jauh
dari sempurna. Maka dari itu, kami harapkan pembaca dapat memaklumi serta
memberi kritik dan saran yang membangun demi terwujudnya makalah yang lebih
baik di masa yang akan datang.
Pekanbaru, 11 November
2021
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.
Konflik
Yang Berkaitan Dengan Sistem Pemerintahan
B.
Pemberontokan
PRRI dan Permesta
C.
Persoalan Negera Federal dan BFO
D.
kaitan Pergolakan yang dan Sistem Pemerintahan
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Permasalahan ini muncul dimulai sejak
Perundingan Linggarjati disetujui dan ditanda tangani dan di perparah dengan
penandatanganan perundingan yang lainnya, seperti Roem-Royen. Konsep Negara
Federal dan “Persekutuan” Negara Bagian (BFO/Bijeenkomst Federal Overleg) mau
tidak mau menimbulkan potensi perpecahan di kalangan bangsa Indonesia sendiri
setelah kemerdekaan.
Persaingan yang timbul terutama adalah antara
golongan federalis yang ingin bentuk negara federal dipertahankan dengan
golongan unitaris yang ingin Indonesia menjadi negara kesatuan.
Dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan
pada 24 Juli 1946 misalnya, pertemuan untuk membicarakan tatanan federal yang
diikuti oleh wakil dari berbagai daerah non RI itu, ternyata mendapat reaksi
keras dari para politisi pro RI yang ikut serta. Mr. Tadjudin Noor dari Makasar
bahkan begitu kuatnya mengkritik hasil konferensi.
Perbedaan keinginan agar
bendera Merah-Putih dan lagu Indonesia Raya digunakan atau tidak oleh Negara
Indonesia Timur (NIT) juga menjadi persoalan yang tidak bisa diputuskan dalam
konferensi. Kabinet NIT juga secara tidak langsung ada yang jatuh karena
persoalan negara federal ini (1947)
Umumnya semua bermuara pada ketidakpuasan
rakyat atau pimpinan di luar Jawa (Daerah) terhadap penyelenggaraan
pemerintahan (Pusat) yang dilakukan para pemimpin RI karena dirasakan terlalu
sentralistis & berorientasi Jawa. Adapun latar belakang pemberontakan PRRI
dan Permesta dapat di jelaskan seperti point-point dibawah ini
- Gagalnya perekonomian bangsa
- Kesenjangan dalam internal tentara angkatan
darat
- Ancaman komunisme
- Peristiwa Cikini
- Intervensi asing
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1.
Apa itu
Konflik Yang Berkaitan Dengan Sistem Pemerintahan?
2.
Bagaimana
Pemberontokan PRRI dan Permesta?
3.
Bagaimana Persoalan
Negera Federal dan BFO?
1.3
Tujuan
Berdasarkan
rumusan maslaah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk
menjelaskan tentang Konflik Yang Berkaitan Dengan Sistem Pemerintahan
2.
Untuk
menjelaskan tentang Pemberontokan PRRI dan Permesta
3.
Untuk
menjelaskan tentang Persoalan Negera Federal dan BFO
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konflik Yang Berkaitan Dengan
Sistem
Pemerintahan
Suatu permasalahan berupa konflik atau
pergolakan yang berkaitan dengan sistem pemerintahan yang mengancam
disintegrasi bangsa
Terdapat 2 aspek yang dibahas, yakni :
1.
Pemberontakan
PRRI dan Permesta
2.
Persoalan
Negera Federal dan BFO
2.2 Pemberontokan PRRI dan Permesta
Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) merupakan salah satu gerakan
pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang
dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari
Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang,
Sumatera Barat, Indonesia. Sedangkan Permesta atau Perdjuangan Semesta atau
Perdjuangan Rakjat Semesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan
ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret
1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusatnya berada di Makassar yang pada
waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi.
Latar Belakang Pemberontakan PRRI
dan Permesta Umumnya semua bermuara pada ketidakpuasan rakyat atau pimpinan di
luar Jawa (Daerah) terhadap penyelenggaraan pemerintahan (Pusat) yang dilakukan
para pemimpin RI karena dirasakan terlalu sentralistis & berorientasi Jawa.
Konflik yang terjadi ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan keinginan akan adanya
otonomi daerah yang lebih luas. Pada masa bersamaan kondisi pemerintahan di
Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda.
Munculnya pemberontakan PRRI dan
Permesta bermula dari adanya persoalan di dalam tubuh Angkatan Darat, berupa
kekecewaan atas minimnya kesejahteraan tentara di Sumatera dan
Sulawesi. Kekecewaan tersebut
diwujudkan engan pembentukan dewan-dewan daerah sebagai alat perjuangan
tuntutan pada Desember 1956 dan Februari 1957, seperti :
- Dewan Banteng di Sumatra Barat yang dipimpin oleh
Letkol Ahmad Husein.
- Dewan Gajah di Sumatra Utara yang dipimpin oleh Kolonel
Maludin Simbolan.
- Dewan Garuda di Sumatra Selatan yang dipimpin oleh
Letkol Barlian.
- Dewan Manguni di Sulawesi Utara yang dipimpin oleh
Kolonel Ventje Sumual.
Beberapa tokoh sipil dari pusatpun
mendukung mereka bahkan bergabung ke dalamnya, seperti Syafruddin
Prawiranegara, Burhanuddin Harahap dan Mohammad Natsir. Ahmad Husein lalu
mengultimatum pemerintah pusat, menuntut agar Kabinet Djuanda mengundurkan diri
dan menyerahkan mandatnya kepada presiden. Tuntutan tersebut jelas ditolak
pemerintah pusat. Krisis pun akhirnya memuncak ketika pada tanggal 15 Februari
1958 Achmad Hussein memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI) di Padang, Sumatera Barat. Sebagai perdana menteri
PRRI ditunjuk Mr. Syafruddin Prawiranegara.
Pemerintah pusat tanpa ragu-ragu
langsung bertindak tegas. Operasi militer dilakukan untuk menindak pemberontak
yang diam-diam ternyata didukung Amerika Serikat. AS berkepentingan dengan
pemberontakan ini karena kekhawatiran mereka terhadap pemerintah pusat
Indonesia yang bisa saja semakin dipengaruhi komunis.
2.3 Persoalan Negera Federal dan BFO
BFO Negara Federal maupun BFO
prinsipnya sama, yakni adalah suatu negara yang secara resmi merdeka dan diakui
kedaulatannya namun secara de-facto berada di bawah kontrol negara lainnya.
Permasalahan ini muncul dimulai sejak Perundingan Linggarjati disetujui dan
ditanda tangani dan di perparah dengan penandatanganan perundingan yang
lainnya, seperti Roem-Royen.
Konsep Negara Federal dan
“Persekutuan” Negara Bagian (BFO/ Bijeenkomst Federal Overleg) mau tidak mau
menimbulkan potensi perpecahan di kalangan bangsa Indonesia sendiri setelah
kemerdekaan. Persaingan yang timbul terutama adalah antara golongan federalis
yang ingin bentuk negara federal dipertahankan dengan golongan unitaris yang
ingin Indonesia menjadi negara kesatuan.
Dalam konferensi Malino di Sulawesi
Selatan pada 24 Juli 1946 misalnya, pertemuan untuk membicarakan tatanan
federal yang diikuti oleh wakil dari berbagai daerah non RI itu, ternyata
mendapat reaksi keras dari para politisi pro RI yang ikut serta. Mr. Tadjudin
Noor dari Makasar bahkan begitu kuatnya mengkritik hasil konferensi.
Sejak pembentukannya di Bandung pada
bulan Juli 1948, BFO telah terpecah ke dalam dua kubu. Kelompok pertama lebih
memilih bergabung RI yang dipelopori oleh Ide Anak Agung Gde Agung (NIT) serta
R.T. Adil Puradiredja dan R.T. Djumhana (Negara Pasundan). Kelompok kedua
dipimpin oleh Sultan Hamid II (Pontianak) dan dr. T. Mansur (Sumatera Timur)
yang bekerjasama dengan Belanda tetap dipertahankan BFO.
Ketika Belanda melancarkan Agresi
Militer II-nya, pertentangan antara dua kubu ini kian sengit. Dalam sidang-sidang
BFO selanjutnya kerap terjadi konfrontasi antara Anak Agung dengan Sultan Hamid
II. Dikemudian hari, Sultan Hamid II ternyata bekerjasama dengan APRA
Westerling mempersiapkan pemberontakan terhadap pemerintah RIS.
Namun selain pergolakan yang mengarah
pada perpecahan, pergolakan bernuansa positif bagi persatuan bangsa juga
terjadi. Hal ini terlihat ketika negara-negara bagian yang keberadaannya ingin
dipertahankan setelah KMB, harus berhadapan dengan tuntutan rakyat yang ingin
agar negara-negara bagian tersebut bergabung ke RI.
Potensi disintegrasi bangsa pada
masa kini bisa saja benar-benar terjadi bila bangsa Indonesia tidak menyadari
adanya potensi semacam itu. Karena itulah kita harus selalu waspada dan terus
melakukan upaya untuk menguatkan persatuan bangsa Indonesia. Sejarah Indonesia
telah menunjukkan bahwa proses disintegrasi sangat merugikan. Antara tahun
1948-1965 saja, gejolak yang timbul karena persoalan ideologi, kepentingan atau
berkait dengan sistem pemerintahan, telah berakibat pada banyaknya kerugian
fiik, materi mental dan tenaga bangsa.
Konflik dan pergolakan yang
berlangsung diantara bangsa Indonesia bahkan bukan saja bersifat internal,
melainkan juga berpotensi ikut campurnya bangsa asing pada kepentingan nasional
bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi disintegrasi yang sudah terjadi
terulang, sebagai generasi muda bangsa ini haruslah berjuang dengan cara
mengisi kemerdekaan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Potensi
disintegrasi bangsa pada masa kini bisa saja benar-benar
terjadi bila bangsa Indonesia tidak menyadari adanya potensi semacam itu.
Karena itulah kita harus selalu waspada dan terus melakukan upaya untuk
menguatkan persatuan bangsa Indonesia.
Sejarah
Indonesia telah menunjukkan bahwa proses disintegrasi
sangat merugikan. Antara tahun 1948-1965 saja, gejolak yang timbul
karena persoalan ideologi, kepentingan atau berkait dengan system pemerintahan,
telah berakibat pada banyaknya kerugian fiik, materi mental dan tenaga bangsa.
Konflik
dan pergolakan yang berlangsung diantara bangsa Indonesia
bahkan bukan saja bersifat internal, melainkan juga berpotensi ikut campurnya
bangsa asing pada kepentingan nasional bangsa Indonesia.
Untuk
mengantisipasi disintegrasi yang sudah
terjadi terulang, sebagai generasi muda bangsa ini haruslah berjuang dengan
cara mengisi kemerdekaan.
3.2 Saran
Penulis
menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada
banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis
mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di
atas.
DAFRAR
PUSTAKA
http://www.mediabelajar.cf/2016/06/pergolakan-yang-berkait-sistem.html
https://prezi.com/zqqbxjjwwkfn/konflik-pergolakan-yang-berkait-dengan-sistem-pemerintahan/
http://gurusejarahlokal.blogspot.co.id/2015/11/konflik-dan-pergolakan-di-indonesia.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar