MAKALAH WAYANG GOLEK
![]()
![]()
![]()
DISUSUN OLEH :
NAMA
KELOMPOK :
1. M. MUZAKIR
2. ZIDAN MAULANA
3. REIHAN FAHREZI
4. ROSMARNI
5. MAULIZA HASANAH
6. LINDA NURUL F
KELAS
: XII. IPS 2
SMAN 2 TUALANG
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Wayang dikenal sejak zaman
prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia
memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut
hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Wayang
merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan
Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003,
sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan
warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible
Heritage of Humanity). Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan
memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang
berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan
dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang
dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan
Ramayana.
Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki
teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan
orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam)
dipentaskan pula. Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti
yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam
mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa
menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau
Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing
masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong)
dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Unsur rupa wayang golek yaitu unsur
visual, berupa bentuk atau rupa dari wayang golek tersebut contohnya berupa
karakter makna simbolik dari wayang golek bahwa watak manusia itu ada 2 macam
yaitu jahat dan baik, dalam wayang golek disimbolkan dengan figur Rahwana,
goleknya memakai makuta dengan model sekar kluwih dan ukirannya menyerupai
ukiran jaman Kerajaan Pajajaran dan Mataram dengan keturunannya yaitu Suyudana
dan Dursasana. dan figur arjuna menggambarkan sosok pejuang sejati yang tampan
dan gagah berani bajunya memakai supit urang, seangkatannya seperti ; Bima dan
Gatotkaca. tapi simbolik lain dalam wayang golek adalah hidup harus
diperjuangkan, jangan menyerah
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan pengertian wayang golek ?
2. Sebutkan unsur –unsur rupa wayang
golek?
3. Sebutkan makna simbolih wayang golek?
4. Sebutkan teknik pembuatan wayang
golek?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN WAYANG GOLEK
Wayang Golek adalah suatu seni
pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer
di wilayah Tanah Pasundan.
B.
UNSUR –UNSUR RUPA WAYANG GOLEK
Unsur rupa wayang golek yaitu unsur
visual, berupa bentuk atau rupa dari wayang golek tersebut contohnya berupa
karakter.
C.
MAKNA SIMBOLIH WAYANG GOLEK
Bahwa watak manusia itu ada 2 macam
yaitu jahat dan baik, dalam wayang golek disimbolkan dengan figur
Rahwana, goleknya memakai makuta dengan model sekar kluwih dan ukirannya
menyerupai ukiran jaman Kerajaan Pajajaran dan Mataram dengan keturunannya yaitu
Suyudana dan Dursasana. dan figur arjuna menggambarkan sosok pejuang
sejati yang tampan dan gagah berani bajunya memakai supit urang, seangkatannya
seperti ; Bima dan Gatotkaca. tapi simbolik lain dalam wayang golek adalah
hidup harus diperjuangkan, jangan menyerah
D. TEKNIK PEMBUATAN WAYANG GOLEK
Melihat Proses
Pembuatan Wayang Golek Pembuatan wayang golek memerlukan bahan baku dan proses
pengerjaan. Bahan utama untuk membuat wayang golek adalah kayu. Jenis kayu yang
biasa dipakai adalah kayu lame (kayu mahoni) atau albasia. Peralatan yang
digunakan khusus untuk pengerjaan kayu tersebut tergolong sangat sederhana
yaitu bedog (golok), gergaji, kampak besar, kampak kecil, pisau raut (pisau
ukir), dan lain sebagainya. Penggunaan kayu lebih mengutamakan jenis kayu lame
dan albasia karena kayu tersebut tergolong bagus dari segi warna dan mudah
dibentuk. Terlebih lagi, kayu lame tergolong tahan terhadap perubahan cuaca
baik dingin ataupun panas. Acuan kayu jenis ini adalah untuk mengantisipasi
terutama apabila pembeli dari luar negeri (negara 4 musim).
Proses awal
pembuatan wayang adalah membuat gambar wajah terlebih dahulu secara detail.
Membuat wayang golek tidaklah mudah karena tergantung dari detail wayang itu
sendiri. Semakin rumit detail karakter wayang maka akan semakin lama proses
pembuatan sebuah wayang. Bagian dianggap cukup rumit adalah pada bagian mahkota
di kepala. Hal ini disebabkan bentuk mahkota secara tidak langsung menjadi ciri
tokoh wayang tersebut. Proses pembuatan kepala dan mahkota membutuhkan alat
pisau ukir dan ampelas. Bentuk dasar kepala diampelas terlebih dahulu baru
kemudian diukir dengan menggunakan pisau ukir.
Dalam proses
menggambar detail wayang, seorang seniman wayang harus memperhatikan 3 bentuk
pakem penokohan yaitu: Pakem Golek Satria, Pakem Golek Ponggawa, dan Pakem
Golek Buta. Dari ketiga pakem penokohan tersebut kemudian tercipta raut muka
wayang golek yang terdiri dari raut peranan, raut, tampang, dan raut wanda.
Keseluruhan raut muka tersebut dicirikan terutama pada bentuk mata, hidung dan
mulut.
Setelah
selesai pembuatan kepala kemudian dilanjutkan dengan pembuatan badan dan
tangan. Tangan harus dibuat terlebih dahulu karena turut menentukan antara
porsi badan dan besaran kepala wayang golek. Setelah pembuatan kepala, badan,
dan tangan kemudian dilanjutkan dengan proses pendempulan. Selesai didempul
kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Setelah kering kemudian
diampelas agar permukaan menjadi halus. Setelah pendempulan wayang golek selesai
dikerjakan, proses selanjutnya adalah pengecatan. Sebelum diwarnai atau dicat,
wayang golek diberi arsiran dulu untuk menentukan bagian mana akan diberi warna
apa. Sementara pada bagian hiasannya, dibuat dengan cara dipulas.
Bahan yang
digunakan adalah cat terutama dari bahan cat duko, yaitu cat yang biasa
digunakan untuk mengecat mobil. Penggunaan cat jenis ini dianggap lebih
menguntungkan karena selain lebih cepat kering, juga daya tahan, tingkat
kecerahan dan sifat cat yang cepat merata ke seluruh permukaan wayang golek.
Proses pengeringan harus dilakukan pada cuaca yang tepat, karena proses
pengeringan tidak boleh terlalu panas sehingga cat tidak mengelupas.
Proses
pembuatan selanjutnya adalah membuat tuding (pegangan wayang golek) dengan
menggunakan bambu sebagai bahan utama. Tuding digunakan sebagai pegangan dalang
pada saat memainkan golek, yaitu alat untuk menggerakkan bagian tangan golek
dan untuk menancapkan golek di atas alas gebok/dudukan golek .
Setelah selesai pembuatan anggota tubuh wayang golek kemudian dilanjutkan
dengan pembuatan pakaian. Bahan untuk membuat pakaian biasanya menggunakan kain
tenun berwarna-warni atau kain beludru yang dibuat dengan cara dijahit. Pakaian
ini kemudian diberi manik-manik dari bahan mute plastik yang mengkilat. Proses
pembuatan wayang golek secara keseluruhan biasanya dikerjakan oleh beberapa
orang. Dengan demikian, beberapa tahapan di atas dapat dikerjakan secara
bersamaan seperti pembuatan tangan, badan, kepala, dan pakaian wayang golek.
Sementara itu, yang tidak dapat dikerjakan bersamaan adalah pada bagian
pendempulan dan pengecatan karena bagian pengecatan harus menunggu sampai
proses pendempulan selesai.
Untuk membuat
wayang yang detailnya tidak terlalu rumit para pengrajin ini dapat
membuat/menghasilkan 3 kepala wayang perhari, sedangkan untuk wayang dengan
detail yang rumit bisa membutuhkan waktu hingga 2 hari per- satu kepala dan
untuk menyelesaikan satu buah wayang dengan segala bentuk dan komplit
dengan asesorisnya dibutuhkan waktu kurang lebih 3 hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar