Selasa, 30 November 2021

MATERI Sejarah Riau Era Kolonial

 DOWNLOAD DOKUMEN


Sejarah Melayu Era  kolonial Belanda

Masuknya Belanda ke Nusantara pada zaman dahulu sungguh meninggalkan bekas yang begitu 

perih.  Terjadinya  penjarahan  serta  penjajahan  selama  tiga  setengah  abad  ini  membuat  rakyat 

kesusahan dan merasa sangat dirugikan. Di tiap tiap provinsi di negara kita ini tak satupun yang 

tak diduduki oleh pemerintahan belanda.

Kesultanan Indragiri didirikan pada Tahun1298 oleh Raja Merlang I yang berkedudukan di Malaka.

Kerajaan – kerajaan yang ada di Indragiri:  1. Kerajaan Kritang

2. Kerajaan Kemuning

3. Kerajaan Batin Enam Suku

4. Kerajaan Indragiri

Tahun  1473  para  raja  Indragiri  mulai  menetap  di  pusat  pemerintahannya,  pada  masa 

pemerintahan Narasinga II

Tahun 1815 Sultan Ibrahim menetap di Rengat

Pada masa pemerintahan Sultan Muda , Belanda ikut campur urusan dalam negri Indragiri

27  September  1938  Kesultanan  Indragiri  menjadi  Zelfbestuur  /  lindungan  Belandayang  dipimpin 

oleh seorang Controleur.

Kesultanan  Siak  didirikan  oleh  Rja  Kecik(  Kecil)  pada  tahun  1723.  Raja  Kecik  bernama  Sultan 

Abdul Jalil Syah I

Pada tahun 1761 Sultan Abdul Jalil Syah III mengikat perjanjian ekslusif dengan Belanda, dalam 

urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayah serta bantuan dalam bidang persenjataan .

Pada tahun 1780 Siak menaklukkan daerah Langkat, Deli dan Serdang.

Tahun 1864, Kesultanan Siak Sri Inderapura yang berpusat di Riau punya pemimpin baru, Sultan Assyaidis 

Syarif Kasim Abdul Jalil Syarifuddin atau Sultan Syarif Kasim I. Namun, sang sultan harus menerima 

kenyataan bahwa kerajaan yang dipimpinnya tidak bisa lagi bergerak leluasa karena kekuasaan pemerintah 

kolonial Hindia Belanda.

Keterjepitan itu setidaknya sudah muncul sejak era Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin 

atau Sultan Said Ismail (1827-1864). Pada 1 Februari 1858, ayahanda Sultan Syarif Kasim I terpaksa 

menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda

Traktat Siak, Siasat Belanda

Traktat Siak adalah konsekuensi keputusan Sultan Said Ismail yang meminta bantuan Belanda untuk 

mengusir Inggris dari wilayah kekuasaan Kesultanan Siak Sri Inderapura. Belanda menyanggupi 

permintaan tersebut, tapi tentunya tidak gratis. Dan ternyata, Inggris berhasil diusir.

Tibalah saatnya Belanda menagih balas jasa kepada Sultan Said Ismail. Diwakili oleh Residen Riau, J.F. 

Niewenhuyzen, ada dua poin besar yang dituntut Belanda dalam kontrak politik bertajuk Traktat Siak itu.

Pertama, Belanda mengakui hak otonomi Siak secara terbatas, yakni hanya wilayah asli milik 

Kesultanan Siak Sri Inderapura (di luar daerah taklukan).

Kedua, Belanda meminta 12 daerah taklukan Siak, meliputi Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, 

Badagai, Kualiluh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta Deli.

Belanda benar-benar menggunakan pengaruhnya untuk membatasi gerak Kesultanan Siak Sri 

Inderapura. Dengan ditandatanganinya Traktat Siak berarti kekuasaan kolonial di Siak telah 

dimulai karena Kesultanan Siak Sri Inderapura dinyatakan bernaung di bawah Kerajaan Belanda’

Alhasil, penerusnya, Sultan Syarif Kasim I, dihadapkan kepada situasi yang sama karena masih 

terikat Traktat Siak dengan Belanda. Namun, sultan muda ini punya cara jitu untuk setidaknya 

menunjukkan Kesultanan Siak Sri Inderapura masih punya cara untuk menjaga kehormatan meski 

ruang geraknya dibatasi.

Invasi  Belanda  yang  agresif  ke  pantai  timur  Sumatra  tidak  dapat  dihadang  oleh  Siak.  Belanda 

mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Keresidenan Riau (Residentie Riouw) 

di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang.

Para  sultan  Siak  tidak  dapat  berbuat  apa-apa  karena  mereka  telah  terikat  perjanjian  dengan 

Belanda.  Kedudukan  Siak  semakin  melemah  dengan  adanya  tarik-ulur  antara  Belanda 

dan Inggris yang kala itu menguasai Selat Melaka, untuk mendapatkan wilayah-wilayah strategis di 

pantai timur Sumatra.

Para  sultan  Siak  saat  itu  terpaksa  menyerah  kepada  kehendak  Belanda  dan  menandatangani 

perjanjian  pada  Juli  1873  yang  menyerahkan Bengkalis kepada  Belanda  dan  mulai  saat  itu, 

wilayah-wilayah  yang  sebelumnya  menjadi  kekuasaan  Siak  satu  demi  satu  berpindah  tangan 

kepada Belanda.

Pada  masa  yang  hampir  bersamaan,  Indragiri  juga  mulai  dipengaruhi  oleh  Belanda,  namun 

akhirnya  baru  benar-benar  berada  di  bawah  kekuasaan Batavia  pada  tahun  1938.  Penguasaan 

Belanda atas Siak kelak menjadi awal pecahnya Perang Aceh.

Di pesisir, Belanda bergerak cepat menghapuskan kerajaan-kerajaan yang masih belum tunduk. 

Belanda  menunjuk  seorang  residen  di Tanjung  Pinang untuk  mengawasi  daerah-daerah  pesisir, 

dan  Belanda  berhasil  memakzulkan Sultan  Riau-Lingga,  Sultan  Abdul  Rahman  Muazzam  Syah 

pada Februari 1911.

Sultan Syarif Kasim II mendirikan sekolah dasar untuk mengimbangi Hollandsch-Inlandsche School 

(HIS) milik Belanda yang hanya menerima murid dari kalangan tertentu. Sultan ingin agar seluruh 

anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan yang baik yaitu : 

Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah pada 1917.

Nama Sultan Syrif Kasim II adalah Suwardi Mohammad Samin .

Pemaisuri Syarif Kasim II, Syarifah Latifah, juga turut mendirikan sekolah khusus untuk perempuan 

pertama di Riau. Sekolah yang bernama Latifah School tersebut diresmikan pada 1926.

Sayangnya, Latifah keburu meninggal. Perjuangannya dilanjutkan permaisuri kedua, Tengku 

Maharatu. Selain mengelola Latifah School, ia juga mendirikan asrama putri, taman kanak-kanak, 

serta menggagas sekolah perempuan lainnya bernama Madrasyahtul Nisak.

Syarif Kasim II sendiri terus menentang Belanda melalui gerakan diam-diam. Salah satunya 

memberi dukungan kepada “pemberontakan” Si Koyan pada 1931, yang dilancarkan oleh mereka 

yang tidak sudi dijadikan pekerja paksa.

Situs Sejarah/ peninggalan sejara era kolonial Belanda:

1. Lukisan pesisir Riau oleh seorang pelukis Belanda, sekitar tahun 1850.

2. Tangsi Militer Belanda.

Sumber: Instagram @exploresiak

Tangsi merupakan gedung  ketentaraan tempat berdiam sementara para serdadu yang biasanya dibangun 

di tengah-tengah lahan kosong atau biasa kita sebut dengan asrama. Namun tangsi yang berdiri sekitar 

tahun 1880 an ini bukan merupakan asrama seperti pada umumnya melainkan asrama khu sus untuk para 

tentara Belanda yang diperuntukkan untuk menjajah rakyat di sekitar tempat berdirinya tangsi tersebut.  

Sumber: Instagram @jhev_indrayuda

Tangsi militer Belanda ini lebih tepatnya berada di Desa Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten 

Siak,  Riau  dan  masih  berada  di  Kawasan  Cagar  budaya  Kesultanan  Siak.  Untuk  menuju  ke  tangsi  ini 

perjalanannya  memakan  waktu  sekitar  2  hingga  3  jam  dari  kota  Pekanbaru  via  jalur  darat  baik  dengan 

motor atau mobil. Sedangkan jika para pengunjung telah berada di  Kawasan Cagar Budaya Kesultanan 

Siak  maka  cukup  menyebrangi  sungai  saja  untuk  menuju  ke  tangsi  ini.  Kondisi  jalanannya  pun  sudah 

cukup  lancar  dan  ramai  sehingga  jika  wisatawan  berniat  untuk  mencari  penginapan  maka  dapat 

mencarinya di pusat kota Siak. Tangsi Belanda ini berdekatan dengan sungai Siak yang sangat terkenal 

sebagai sungai terdalam di pulau Sumatera.

3.  Bangunan  bangunan  Controlleur  dan  Landraad  yang  terletak  di  Kampung  Benteng  Hilir  kecamatan 

Mempura, Kabupaten Siak .

4. Kapal Kato

Kapal Kato adalah Kapal yang Digunakan Sultan Siak dari Riau Untuk Telusuri Daerah Kekuasaannya

5. Bangunan Huis Van Behauring

Bangunan Benteng Huis Van Behaurin, bangunan penjara peninggalan masa penjajahan Belanda

Bangunan  Benteng  Huis  Van  Behaurin  yang  terletak  di  Jalan  Pahlawan,  Kelurahan  Kota  Bengkalis, 

Kabupaten  Bengkalis  .Bangunan  Huis  Van  Behauring  ini  dibangun  pada  tahun  1810,  dulunya  berfungsi 

sebagian penjara untuk memenjarakan raja, tokoh masyarakat dan siapa saja yang menentang penjajahan 

Belanda.

6. Benteng Tujuh Lapis

Benteng Tujuh Lapis terletak di Desa Dalu-Dalu , Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu. Jaraknya 

kira-kira 23 km dari makan raja-raja Rambah. Sesuai namanya, benteng ini terdiri dari tujuh lapis berupa 

gundukan tanah yang tingginya mencapai 11 meter yang ditanam Bambu Berduri pada tahun 1838 -1839

7. Menara Water Ledeen.

Water Leeding merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang masih utuh di kota Bagan 

Siapiapi. bangunan ini merupakan stasiun pengolahan air minum. Water leding dibangun oleh Belanda 

pada tahun 1931. Sekarang yang tersisa adalah sisa berupa tandon air berukuran raksasa.

Tokoh Sejarah era kolonial Belanda yang ditetapkan dan disahkan oleh ketua DPRD Riau :

1. HM Hamid Yahya dari Pekanbaru, 

2.Tengku Syarifah Fadlun Tengku Maharatu dari Siak, 

3.Tengku Ghazali dari Kampar, dan 

4.Tengku Ilyas dari Rokan Hulu

5. Datuk Zainal Abidin dari Rokan Hilir, 

6.Tengku Muhammad dari Indragiri Hilir,

7.  Letkol A Muis dari Kuantan Singingi, 

8. H Bakar Oemar dari Kepulauan Meranti, 

9. Tengku Masdulhak dari Kota Dumai,

10. H Baharuddin Yusud dari Indragiri Hilir, 

11. Kolonel Polisi Zalik Aris dari Bengkalis 

12.  Tengku Nazir Alwi dari Pelalawan

.

Tugas

1.  Tulislah 7 situs sejarah Melayu Riau Era Kolonial!

2.  Tulislah 12 tokoh – tokoh sejarah Melayu Riau Era Kolonial Belanda ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH PKN MENGENAL SUKU JAWA

  MAKALAH PKN "MENGENAL SUKU JAWA"   D I S U S U N OLEH : Nama Kelompok 1.Reihaadi 2.Sri Rahayu zoratul ...